Cerita Seks Permainan Nakal Berasama Pramugari Yang Menyenangkan

Posted on

Karena Sebelumnya Sempat Posting Jeritan Tante Siska Tak Tahan Kenikmatan Ngentot Denganku Maka Pada Postingan Terbaru ini yang Bercerita Dewasa dengan judul ”Cerita Seks Permainan Nakal Berasama Pramugari Yang Menyenangkan” kisah Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2017.

 

Cerita Seks Permainan Nakal Berasama Pramugari Yang Menyenangkan
Cerita Seks Bersama Pramugari Yang menyenangkan

 

Perjumpaan saya dengan Maya, seseorang pramugari udara di satu perusahaan penerbangan nasional, terjadi dalam perjalanan panjang dari Jakarta menuju Jayapura. Waktu itu larut malam, saya berupaya keras sekedar untuk pejamkan mata, beristirahat sesaat menyingkirkan kantuk supaya bisa melakukan tugasku hingga di kota maksud. Kursi empuk berlapis kulit di kelas usaha pesawat Boeing 737 itu, tidak dapat memberi kenyamanan yang saya perlukan. Walaupun begitu, kursi itu didesain jadi tempat duduk, bukanlah tempat untuk berbaring dan tidur.

Baru akan terlelap, kurasakan guncangan lembut di kursi saya. Seorang duduk menghempaskan dianya ke kursi kosong di samping saya. Dengan agak jengkel, saya buka mata dan punya niat untuk memberinya teguran. Pandangan saya terpaku pada sesosok muka cantik menarik, dengan matanya yang meskipun tampak mengantuk, tetaplah bening dan indah. Seulas senyum tampak di bibir mungil yang merah, yang lalu berkata perlahan

“Maafkan saya pak, karna sudah mengganggu tidur Bapak”

Sembari tetaplah melihat dan kagum pada kecantikannya, saya berkata “Ah, tidak apa-apa. Saya belum tidur koq”

Kami bersalaman, lantas kudengar ia mengatakan namanya, “Maya…”

Hilang sudah kantuk saya. Ditambah lagi sesudah saya ketahui kalau Maya yaitu sosok wanita yang mengasyikkan jadi rekan bercakap. Ia menceritakan mengenai sukai dukanya jadi pramugari udara. Tangan dan jarinya yang lentik seolah menari-nari di udara, mengekspresikan ceritanya. Kadang-kadang ia menyentuh tangan saya, dan tidak sungkan untuk mencubit apabila saya ganggu.

Diam-diam saya pandangi dan cermati semua sisi badannya. Tingginya saya prediksikan sekitaran 160 cm, langsing dan begitu seimbang. Maya mempunyai tungkai kaki yang indah prima. Kulitnya yang putih kontras sekali dengan seragam warna birunya. Payudaranya tidaklah terlalu besar, namun tampak kencang menantang. Memikirkan dianya kemampuanng telanjang ditempat tidur, buat kemaluan saya bangkit, jadi membesar dan keras. Fikiran kotor saya melayang-layang jauh.

Kebersamaan kami terganggu oleh suara Kapten Pilot yang memberitahu kalau pesawat akan mendarat di Biak, untuk isi bahan bakar dan perubahan awak kabin. Sesudah bersalaman dan sedikit basa basi, Maya menghilang dibalik gorden. Saya meneruskan istirahat saya, hingga lalu dibangunkan oleh pramugari udara beda, yang tawarkan sarapan pagi.

Hari-hari setelah itu di ibukota provinsi paling timur Indonesia itu, disibukkan oleh tugas saya jadi Petugas Sosialisasi satu diantara program pemerintah. Jadi “Utusan Pusat”, saya seringkali diperlakukan seolah tamu agung, yang butuh dihibur dan dipenuhi semua kebutuhannya. Saya diletakkan di hotel yang disebut hotel paling baik di kota itu. Sebagian tawaran untuk sediakan “teman tidur” saya tolak dengan halus. Saya takut tertular penyakit.

Waktu senggang diluar tugas saya butuhkan dengan jalan kaki keliling kota. Satu rutinitas yang senantiasa saya kerjakan dalam tiap-tiap perjalanan, untuk lebih mengetahui daerah baru. Kota Jayapura ada segera di pinggir laut berair tenang. Saat malam hari, di selama pinggir pantai bisa didapati warung-warung yang jual masakan laut, yang segera digoreng atau dibakar ditempat. Sangat nikmat. Di sanalah umumnya saya menggunakan malam. Disana juga disuatu malam, saya kembali berjumpa dengan Maya yang sedang tidak bertugas, dengan 2 rekan seprofesi.

Maya segera tawarkan untuk gabung, demikian lihat saya datang. Benar-benar mengasyikkan ada diantara 3 gadis cantik, walaupun bisa saya yakinkan kalau kantong saya akan terkuras untuk mentraktir mereka semuanya. Panggilan “Bapak” pada saat di pesawat, beralih jadi “Mas” sampai buat malam itu makin akrab dan hangat. Dari perbincangan, saya ketahui kalau mereka bertiga bermalam di hotel yang sama juga dengan saya.

Selesai makan, kami berpisah. Diluar sangkaan, Maya menginginkan turut dengan saya nikmati malam sembari jalan kaki. Satu keinginan yang begitu susah tidak diterima. Kami juga jalan perlahan-lahan sembari sama-sama bertukar cerita dan bercanda. Angin pantai buat Maya kedinginan. Saya terlepas jaket saya, lantas saya pasangkan di bahunya. Saya beranikan diri merangkul bahunya, memberi kehangatan penambahan pada badannya yang cuma dilapis oleh T-Shirt tidak tebal berwarna merah. Maya tidak menghindar atau berupaya menolak, jadi balas merangkul pinggang saya.

Saya heran dengan gadis-gadis zaman saat ini. Makin gampang untuk jadi begitu akrab, dan berasumsi kalau hubungan pada wanita dan pria yaitu biasa saja. Tak ada lagi malu-malu atau sungkan, meskipun masa perjumpaan yang relatif singkat. Kami jalan seperti dua kekasih yang sedang bermesraan. Tangan saya tersapu oleh ujung rambutnya, dan kadang-kadang saya rasakan kepalanya menyandar di bahu saya.

Birahi saya terpicu, otak kotor saya memutar otak mencari akal untuk membawanya ketempat tidur di kamar hotel saya. Kelamin saya mengembang keras, buat saya terasa tidak nyaman karna terjepit oleh ketatnya celana jeans yang saya gunakan. Mulut kami berdua diam seribu bhs, berikan peluang untuk nikmati sentuhan kebersamaan dalam keheningan.

Langkah untuk langkah membawa kami masuk lobby hotel. Saya ajak Maya ke Coffee Shop, untuk nikmati secangkir minuman hangat sembari nikmati live music. Saya pilih tempat agak di sudut, supaya tidaklah terlalu menarik perhatian orang. Saya cermati seputar, sebagian pasangan asyik berpelukan, sedang sebagian gadis berpenampilan seronok duduk sendirian. Berikut mungkin yang dijelaskan oleh kawan-kawan saya jadi “Ayam Menado”, sebelumnya saya pergi sekian hari kemarin.

Tangan saya tetaplah memeluknya, sesaat Maya menumpukan kepalanya di dada saya. Kurasakan kakinya bergoyang perlahan-lahan ikuti irama musik. Wangi rambutnya buat saya menginginkan mencium kepalanya. Namun, apakah ia akan geram? Apakah ia akan tersinggung? Sejuta pertanyaan dan kecemasan keluar dalam fikiran saya. Sesaat di bagian beda, otaksaya masih selalu berputar-putar mencari akal untuk membawanya ke kamar saya malam hari ini. Jantung saya berdebar keras, sesaat kelamin saya makin besar dan keras. Musik dan situasi romantis tempat itu tak akan menarik buat saya. Bagaimana dan bagaimana… pertanyaan itu yang terus-terusan keluar Selingkuh Dengan Tetangga Rumah, Tante Yang haus akan Sex.

Perlahan-lahan saya cium ubun-ubun kepalanya, sembari berkata, “Maya, sudah malam nih, kita bobo yuk”

Ia cuma mengangguk sembari berdiri. Sesudah merampungkan pembayaran, kami jalan menuju lift. Tangan saya masih merangkul bahunya, meskipun ia tak akan memeluk pinggang saya. Saya tekan tombol angka 3, untuk menuju lantai di mana kamar saya ada. Saya berniat tidak ajukan pertanyaan di lantai berapakah ia tinggal, dan iapun diam saja. Maya juga tidak berupaya untuk menghimpit tombol beda. Dalam hati saya bertanya-tanya, bebrapa janganlah kamarnya satu lantai dengan kamar saya.

Sembari menyender ke dinding lift, sayatarik ia dan saya sandarkan dia membelakangi saya. Saya peluk ia dari belakang, sembari kadang-kadang saya cium rambut kepalanya. Jantung saya berdetak makin cepat, sesaat kelamin saya makin sakit tertekan celana jeans saya yang cukup ketat. Semoga pantatnya yang pas melekat ke kelaminsaya tidak rasakan ada suatu hal yang mengganjal. Fikiran saya masih bertanya-tanya, mau…? tidak…? mau…? tidak…? hingga lalu pintu lift terbuka.

Sembari selalu ada dalam pelukan saya, saya bimbing dia menuju kamar saya. Tak ada perlawanan atau penolakan saya rasakan. Setan yang ada dalam fikiran saya menjerit suka. Malam hari ini akan terjadi pergumulan birahi yang panas. Dalam hati saya punya niat untuk memberi kenikmatan yg tidak terbendung kepadanya, seperti yang biasa saya beri dalam petualangan-petualangan asmara saya, termasuk juga pada istri saya terkasih.

Demikian pintu terkunci, sembari tetaplah berdiri saya peluk dan saya cium bibirnya dengan lembut meskipun penuh nafsu. Maya membalasnya dengan tidak kalah ganasnya. Lidah kami berjumpa, sama-sama berpagutan dan terkait. Saya susuri langit-langit mulutnya dengan lidah saya yang cukup panjang, kasar dan hangat. Maya merintih lirih,

“Aaaccchhh…”

Cerita Seks – Tangan kanan saya perlahan-lahan menyeka dan menelusuri punggungnya yang masih terbalut T-Shirt, sesaat jaket saya sudah lama terlempar jatuh. Dari leher, perlahan-lahan turun ke bawah, ke arah pinggang mencari ujung kaos, lantas kembali pada atas lewat bagian sisi dalam. Saya rasakan kulit punggungnya begitu halus dan mulus. “Klik”, tangan saya yang sangatlah terlatih berhasil melepas pengait BH-nya dengan begitu hati-hati. Dengan ke-2 tangan, perlahan-lahan saya tarik kaos itu ke atas hingga lepas.

Dengan perlahan-lahan dan hati-hati, ke-2 tangan saya segera bergerilya menelusuri ke-2 bahunya, pangkal lengannya, geser ke pinggang, perut, perlahan-lahan ke atas menuju payudaranya. Disamping itu, ke-2 tangannya sudah berhasil buka Polo Shirt yang saya gunakan. Tangan saya sudah nyaris hingga ke payudaranya, saat mendadak ia mendorongsaya perlahan-lahan.

“Maaf mas, Maya pipis dahulu ya” tuturnya sembari jalan membelakangi saya menuju kamar mandi.

Saya cermati kulit punggungnya yang putih dan mulus, hampir tanpa ada cacat. Pinggul rampingnya yang masih terbalut celana jeans, tampak makin indah dan merangsang. Tidak sabar rasa-rasanya untuk segera melumat badannya, membawanya mengawang tinggi menuju tingkat kesenangan yg tidak terkira.

Sesaat menanti, saya tersadar kalau saya belum bersihkan diri. Rutinitas yang senantiasa sayalakukan sebelumnya bercinta dengan wanita manapun. Saya senantiasa melindungi kebersihan, dan berupaya untuk memakai parfum beraroma lembut, yang saya yakini bisa tingkatkan gairah wanita. Dari kamar mandi terdengar gemericik air, yang mengisyaratkan Maya juga sedang bersihkan dianya.

Nyatanya Maya termasuk juga type wanita yang saya gemari, senantiasa bersihkan diri sebelumnya bercinta. Walaupun dalam kondisi birahi tinggi, saya tetaplah terasa terganggu dengan bebauan yang kurang sedap, dari kelamin wanita yg tidak bersih. Saya buka dompe tsaya, lantas saya ambillah karet pengaman merk populer yang senantiasa saya bawa dimanapun saya pergi. Saya sisipkan ke bawah bantal tempat tidur, supaya gampang mengambilnya ketika diperlukan nanti…

Selesai Curhat Eksekusi NGentot Dengan Mbak Anna Yang Perawan Tua Maya keluar dari kamar mandi dengan badan yang cuma terbalut handuk. Rupanya dia betul-betul ingin dan bersedia bercinta dengansaya.

“Sebentar sayang, saat ini giliranku untuk bersihkan diri” kata saya sembari mencium keningnya lantas jalan menuju kamar mandi.

Sayup-sayup saya dengar suara TV yang baru dihidupkan olehnya. Sesudah menggosok-gosok gigi dan berkumur dengan larutan antiseptik, saya bersihkan kemaluan saya dan sekelilingnya dengan sabun. Siraman air dingin tidak dapat kurangi kekerasannya. Kemaluan saya tetaplah mengacung gagah, besar dan berurat.

Maya sedang duduk di tepi tempat tidur, waktu saya keluar dari kamar mandi, dengan juga cuma terbalut handuk. Saya hampiri dianya, ia berdiri lantas kami berciuman. Dari mulutnya tercium aroma obat kumur antiseptik punya saya, buat saya makin terangsang. Tangannya buka belitan handuk di pinggang saya, buat kemaluan saya terlepas terlepas, mengacung besar dan keras.

Perjumpaan saya dengan Maya, seseorang pramugari udara di satu perusahaan penerbangan nasional, terjadi dalam perjalanan panjang dari Jakarta menuju Jayapura. Waktu itu larut malam, saya berupaya keras sekedar untuk pejamkan mata, beristirahat sesaat menyingkirkan kantuk supaya bisa melakukan tugasku hingga di kota maksud. Kursi empuk berlapis kulit di kelas usaha pesawat Boeing 737 itu, tidak dapat memberi kenyamanan yang saya perlukan. Walaupun begitu, kursi itu didesain jadi tempat duduk, bukanlah tempat untuk berbaring dan tidur.

Baru akan terlelap, kurasakan guncangan lembut di kursi saya. Seorang duduk menghempaskan dianya ke kursi kosong di samping saya. Dengan agak jengkel, saya buka mata dan punya niat untuk memberinya teguran. Pandangan saya terpaku pada sesosok muka cantik menarik, dengan matanya yang meskipun tampak mengantuk, tetaplah bening dan indah. Seulas senyum tampak di bibir mungil yang merah, yang lalu berkata perlahan

“Maafkan saya pak, karna sudah mengganggu tidur Bapak”

Sembari tetaplah melihat dan kagum pada kecantikannya, saya berkata “Ah, tidak apa-apa. Saya belum tidur koq”

Kami bersalaman, lantas kudengar ia mengatakan namanya, “Maya…”

Hilang sudah kantuk saya. Ditambah lagi sesudah saya ketahui kalau Maya yaitu sosok wanita yang mengasyikkan jadi rekan bercakap. Ia menceritakan mengenai sukai dukanya jadi pramugari udara. Tangan dan jarinya yang lentik seolah menari-nari di udara, mengekspresikan ceritanya. Kadang-kadang ia menyentuh tangan saya, dan tidak sungkan untuk mencubit apabila saya ganggu.

Diam-diam saya pandangi dan cermati semua sisi badannya. Tingginya saya prediksikan sekitaran 160 cm, langsing dan begitu seimbang. Maya mempunyai tungkai kaki yang indah prima. Kulitnya yang putih kontras sekali dengan seragam warna birunya. Payudaranya tidaklah terlalu besar, namun tampak kencang menantang. Memikirkan dianya kemampuanng telanjang ditempat tidur, buat kemaluan saya bangkit, jadi membesar dan keras. Fikiran kotor saya melayang-layang jauh.

Kebersamaan kami terganggu oleh suara Kapten Pilot yang memberitahu kalau pesawat akan mendarat di Biak, untuk isi bahan bakar dan perubahan awak kabin. Sesudah bersalaman dan sedikit basa basi, Maya menghilang dibalik gorden. Saya meneruskan istirahat saya, hingga lalu dibangunkan oleh pramugari udara beda, yang tawarkan sarapan pagi.

Hari-hari setelah itu di ibukota provinsi paling timur Indonesia itu, disibukkan oleh tugas saya jadi Petugas Sosialisasi satu diantara program pemerintah. Jadi “Utusan Pusat”, saya seringkali diperlakukan seolah tamu agung, yang butuh dihibur dan dipenuhi semua kebutuhannya. Saya diletakkan di hotel yang disebut hotel paling baik di kota itu. Sebagian tawaran untuk sediakan “teman tidur” saya tolak dengan halus. Saya takut tertular penyakit.

Waktu senggang diluar tugas saya butuhkan dengan jalan kaki keliling kota. Satu rutinitas yang senantiasa saya kerjakan dalam tiap-tiap perjalanan, untuk lebih mengetahui daerah baru. Kota Jayapura ada segera di pinggir laut berair tenang. Saat malam hari, di selama pinggir pantai bisa didapati warung-warung yang jual masakan laut, yang segera digoreng atau dibakar ditempat. Sangat nikmat. Di sanalah umumnya saya menggunakan malam. Disana juga disuatu malam, saya kembali berjumpa dengan Maya yang sedang tidak bertugas, dengan 2 rekan seprofesi.

Maya segera tawarkan untuk gabung, demikian lihat saya datang. Benar-benar mengasyikkan ada diantara 3 gadis cantik, walaupun bisa saya yakinkan kalau kantong saya akan terkuras untuk mentraktir mereka semuanya. Panggilan “Bapak” pada saat di pesawat, beralih jadi “Mas” sampai buat malam itu makin akrab dan hangat. Dari perbincangan, saya ketahui kalau mereka bertiga bermalam di hotel yang sama juga dengan saya.

Selesai makan, kami berpisah. Diluar sangkaan, Maya menginginkan turut dengan saya nikmati malam sembari jalan kaki. Satu keinginan yang begitu susah tidak diterima. Kami juga jalan perlahan-lahan sembari sama-sama bertukar cerita dan bercanda. Angin pantai buat Maya kedinginan. Saya terlepas jaket saya, lantas saya pasangkan di bahunya. Saya beranikan diri merangkul bahunya, memberi kehangatan penambahan pada badannya yang cuma dilapis oleh T-Shirt tidak tebal berwarna merah. Maya tidak menghindar atau berupaya menolak, jadi balas merangkul pinggang saya.

Saya heran dengan gadis-gadis zaman saat ini. Makin gampang untuk jadi begitu akrab, dan berasumsi kalau hubungan pada wanita dan pria yaitu biasa saja. Tak ada lagi malu-malu atau sungkan, meskipun masa perjumpaan yang relatif singkat. Kami jalan seperti dua kekasih yang sedang bermesraan. Tangan saya tersapu oleh ujung rambutnya, dan kadang-kadang saya rasakan kepalanya menyandar di bahu saya.

Birahi saya terpicu, otak kotor saya memutar otak mencari akal untuk membawanya ketempat tidur di kamar hotel saya. Kelamin saya mengembang keras, buat saya terasa tidak nyaman karna terjepit oleh ketatnya celana jeans yang saya gunakan. Mulut kami berdua diam seribu bhs, berikan peluang untuk nikmati sentuhan kebersamaan dalam keheningan.

Langkah untuk langkah membawa kami masuk lobby hotel. Saya ajak Maya ke Coffee Shop, untuk nikmati secangkir minuman hangat sembari nikmati live music. Saya pilih tempat agak di sudut, supaya tidaklah terlalu menarik perhatian orang. Saya cermati seputar, sebagian pasangan asyik berpelukan, sedang sebagian gadis berpenampilan seronok duduk sendirian. Berikut mungkin yang dijelaskan oleh kawan-kawan saya jadi “Ayam Menado”, sebelumnya saya pergi sekian hari kemarin.

Tangan saya tetaplah memeluknya, sesaat Maya menumpukan kepalanya di dada saya. Kurasakan kakinya bergoyang perlahan-lahan ikuti irama musik. Wangi rambutnya buat saya menginginkan mencium kepalanya. Namun, apakah ia akan geram? Apakah ia akan tersinggung? Sejuta pertanyaan dan kecemasan keluar dalam fikiran saya. Sesaat di bagian beda, otaksaya masih selalu berputar-putar mencari akal untuk membawanya ke kamar saya malam hari ini. Jantung saya berdebar keras, sesaat kelamin saya makin besar dan keras. Musik dan situasi romantis tempat itu tak akan menarik buat saya. Bagaimana dan bagaimana… pertanyaan itu yang terus-terusan keluar.

Perlahan-lahan saya cium ubun-ubun kepalanya, sembari berkata, “Maya, sudah malam nih, kita bobo yuk”

Ia cuma mengangguk sembari berdiri. Sesudah merampungkan pembayaran, kami jalan menuju lift. Tangan saya masih merangkul bahunya, meskipun ia tak akan memeluk pinggang saya. Saya tekan tombol angka 3, untuk menuju lantai di mana kamar saya ada. Saya berniat tidak ajukan pertanyaan di lantai berapakah ia tinggal, dan iapun diam saja. Maya juga tidak berupaya untuk menghimpit tombol beda. Dalam hati saya bertanya-tanya, bebrapa janganlah kamarnya satu lantai dengan kamar saya.

Sembari menyender ke dinding lift, sayatarik ia dan saya sandarkan dia membelakangi saya. Saya peluk ia dari belakang, sembari kadang-kadang saya cium rambut kepalanya. Jantung saya berdetak makin cepat, sesaat kelamin saya makin sakit tertekan celana jeans saya yang cukup ketat. Semoga pantatnya yang pas melekat ke kelaminsaya tidak rasakan ada suatu hal yang mengganjal. Fikiran saya masih bertanya-tanya, mau…? tidak…? mau…? tidak…? hingga lalu pintu lift terbuka.

Sembari selalu ada dalam pelukan saya, saya bimbing dia menuju kamar saya. Tak ada perlawanan atau penolakan saya rasakan. Setan yang ada dalam fikiran saya menjerit suka. Malam hari ini akan terjadi pergumulan birahi yang panas. Dalam hati saya punya niat untuk memberi kenikmatan yg tidak terbendung kepadanya, seperti yang biasa saya beri dalam petualangan-petualangan asmara saya, termasuk juga pada istri saya terkasih.

Demikian pintu terkunci, sembari tetaplah berdiri saya peluk dan saya cium bibirnya dengan lembut meskipun penuh nafsu. Maya membalasnya dengan tidak kalah ganasnya. Lidah kami berjumpa, sama-sama berpagutan dan terkait. Saya susuri langit-langit mulutnya dengan lidah saya yang cukup panjang, kasar dan hangat. Maya merintih lirih,

“Aaaccchhh…”

Cerita Seks – Tangan kanan saya perlahan-lahan menyeka dan menelusuri punggungnya yang masih terbalut T-Shirt, sesaat jaket saya sudah lama terlempar jatuh. Dari leher, perlahan-lahan turun ke bawah, ke arah pinggang mencari ujung kaos, lantas kembali pada atas lewat bagian sisi dalam. Saya rasakan kulit punggungnya begitu halus dan mulus. “Klik”, tangan saya yang sangatlah terlatih berhasil melepas pengait BH-nya dengan begitu hati-hati. Dengan ke-2 tangan, perlahan-lahan saya tarik kaos itu ke atas hingga lepas.

Dengan perlahan-lahan dan hati-hati, ke-2 tangan saya segera bergerilya menelusuri ke-2 bahunya, pangkal lengannya, geser ke pinggang, perut, perlahan-lahan ke atas menuju payudaranya. Disamping itu, ke-2 tangannya sudah berhasil buka Polo Shirt yang saya gunakan. Tangan saya sudah nyaris hingga ke payudaranya, saat mendadak ia mendorongsaya perlahan-lahan.

“Maaf mas, Maya pipis dahulu ya” tuturnya sembari jalan membelakangi saya menuju kamar mandi.

Saya cermati kulit punggungnya yang putih dan mulus, hampir tanpa ada cacat. Pinggul rampingnya yang masih terbalut celana jeans, tampak makin indah dan merangsang. Tidak sabar rasa-rasanya untuk segera melumat badannya, membawanya mengawang tinggi menuju tingkat kesenangan yg tidak terkira.

Sesaat menanti, saya tersadar kalau saya belum bersihkan diri. Rutinitas yang senantiasa sayalakukan sebelumnya bercinta dengan wanita manapun. Saya senantiasa melindungi kebersihan, dan berupaya untuk memakai parfum beraroma lembut, yang saya yakini bisa tingkatkan gairah wanita. Dari kamar mandi terdengar gemericik air, yang mengisyaratkan Maya juga sedang bersihkan dianya.

Nyatanya Maya termasuk juga type wanita yang saya gemari, senantiasa bersihkan diri sebelumnya bercinta. Walaupun dalam kondisi birahi tinggi, saya tetaplah terasa terganggu dengan bebauan yang kurang sedap, dari kelamin wanita yg tidak bersih. Saya buka dompe tsaya, lantas saya ambillah karet pengaman merk populer yang senantiasa saya bawa dimanapun saya pergi. Saya sisipkan ke bawah bantal tempat tidur, supaya gampang mengambilnya ketika diperlukan nanti…

Maya keluar dari kamar mandi dengan badan yang cuma terbalut handuk. Rupanya dia betul-betul ingin dan bersedia bercinta dengansaya.

“Sebentar sayang, saat ini giliranku untuk bersihkan diri” kata saya sembari mencium keningnya lantas jalan menuju kamar mandi.

Sayup-sayup saya dengar suara TV yang baru dihidupkan olehnya. Sesudah menggosok-gosok gigi dan berkumur dengan larutan antiseptik, saya bersihkan kemaluan saya dan sekelilingnya dengan sabun. Siraman air dingin tidak dapat kurangi kekerasannya. Kemaluan saya tetaplah mengacung gagah, besar dan berurat.

Maya sedang duduk di tepi tempat tidur, waktu saya keluar dari kamar mandi, dengan juga cuma terbalut handuk. Saya hampiri dianya, ia berdiri lantas kami berciuman. Dari mulutnya tercium aroma obat kumur antiseptik punya saya, buat saya makin terangsang. Tangannya buka belitan handuk di pinggang saya, buat kemaluan saya terlepas terlepas, mengacung besar dan keras.

Next Baca juga : Cerita Sex Puas Dengan Kontol Tukang Sensus

One thought on “Cerita Seks Permainan Nakal Berasama Pramugari Yang Menyenangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *