Nikmatnya ML Di Kantor Sore sore dengan Bu Lastri Penjual Roti Bakar

Posted on

Karena Sebelumnya Sempat Posting Kenikmatan Pijat Plus Plus Membuat Peniesku Ketagihan Maka Pada Postingan Terbaru ini yang Bercerita Dewasa dengan judul ”Nikmatnya ML Di Kantor Sore sore dengan Bu Lastri Penjual Roti Bakar” kisah Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2017.

Nikmatnya ML Di Kantor Sore sore dengan Bu Lastri
Kenikmatan Ngentot di Kantorku dengan Penjual Roti Bakar

 

Minggu kemarin saya ditugaskan oleh kantorku ke kantor cabang di Bandung. Memanglah saya sudah ada tempat tinggal yang sudah disediakan oleh kantor pusat, jadi tidaklah perlu lagi untuk bermalam di hotel, yang pasti semakin lebih besar pengeluarannya.

Sudah tujuh hari ini saya selalu makan malam keluar tempat tinggal, karna tempat tinggal rumahku cuma ada pembantu pria yang cuma bersihkan tempat tinggal dan membersihkan baju dan pulang pada sore hari sesudah saya pulang dari kantor cabang di Bandung.

Memanglah sudah dua hari ini saya tidak mau makan malam yang jauh, saya sukai makan roti bakar dan bubur kacang ijo yang ada didepan kantor cabangku. Itupun tidak bisa lebih dari jam sembilan malam, karna lebih dari jam itu warung itu sudah tutup. Saya kaget juga waktu makan diwarung itu yang biasa melayani Pak tua, kok mendadak yang melayani seseorang ibu yang wajahnya lumayan manis, dengan badan sintal, usia kurang lebih 45 th., dan berkulit kuning langsat seperti tanda-tanda ciri khas orang Jawa Barat.

“Bu, ayah yang biasa melayani di sini, kemana bu? ” sapaku.
“Och Mang Didin, sedang sakit Mas. ” jawabnya.
“Lalu ibu siapa? ” tanyaku penasaran.

Dia cuma tersenyum manis saja.

“Wach ini ibu buat penasaran saja nich” fikirku dalam hati.

Memanglah sih dia balik ajukan pertanyaan, saya ini siapa, dan sesudah saya terangkan, dia memanglah mengenalkan diri kalau dia ibu Lastri. Dia terangkan kalau dia tinggal persis dibelakang kantorku sekarang ini, namun masuk gang kecil. Saya duduk sembari makan roti tidak umumnya sampai hingga warung itu tutup. Cukup terang kalau Bu Lastri cuma tinggal dengan seseorang anaknya lelaki yang sudah berkeluarga. Lantas dari info pembantu di kantor cabangku, kalau Bu Lastri itu ditinggal cerai oleh suaminya satu tahun waktu lalu, dan disebutkan kalau Bu Lastri sebelumnya cerai termasuk juga orang yang ada, walau tidaklah terlalu kaya sekali. Pastas fikirku, dari dandanannya, Bu Lastri tidaklah terlalu seperti ibu-ibu yang beda, dalam makna tidak menggunakan kebaya, tetapi menggunakan baju terusan sampai dengkulnya.

“Bapak kapan bercakap dengan Bu Lastri? bertanya pembatuku.
“Tadi malam. ” jawabku singkat.
“Wach ayah pulang kantor sukai malam sih, Bu Lastri bila siang atau sore kurang lebih jam lima sukai bercakap di sini dengan saya lho. ” jawab pembantuku lagi.

Och nyatanya Bu Lastri sukai ambillah air ledeng dari kantorku, untuk air termos diwarungnya. Hm.. Peluang fikirku.

Singkat cerita, saya berniat pulang agak sore, dan memanglah benar Bu Lastri sedang bercakap dengan si Dadang pembantuku. Lantas saya ditegurnya sembari berkata.

“Maaf nich Mas, ketahuan dech, seringkali minta air nich. ”
“Nach yach.. Ketahuan, bila demikian mesti bayar nich, dengan roti bakar. ” candaku.

Namun mendadak si Dadang ingin izin pulang cepat karna adiknya ingin kedokter, kebetulan fikirku he he he.

“Iya dech kelak saya katakan sama Mang Didin mempersiapkan roti bakar untuk Mas”
Lantas saya cobalah untuk menggodanya “Ech tidak bisa, yang ambillah air khan ibu, yang membikinkan roti bakar harus juga Bu Lastri dong. ”

Dia menatapku tajam sembari menggigit bibirnya yang begitu indah diliat, saya sudah bisa membaca fikirannya, kalau dia sudah tahu maksudku. Lantas saya balas tersenyum padanya, diapun tersenyum kembali sembari permisi untuk ke warungnya.

Pada akhirnya saya seringkali pulang sore-sore sampai satu saat waktu si Dadang akan izin tidak bisa masuk, akupun izin ke kantor untuk istirahat di rumah, walau sebenarnya ada kemauan untuk mengencani Bu Lastri, karna memanglah saya sudah ada tanda dari pandangan matanya sekian hari yang kemarin.

Siang hari seperti biasa Bu Lastri datang untuk minta air, lantas saya pura-pura menjawab meringis sembari memegang pinggangku. Dan memanglah benar Bu Lastri datang menyongsong.

“Kenapa Mas pinggangnya”
“Enggak tahu nich, tadi pagi bangun tidur segera pinggang saya merasa ingin patah. ”
“Mau ibu pijitin” tantangnya. Wach kebetulan nich fikirku.

Singkat cerita saya sudah tiduran dibangku panjang diruang tamuku tanpa ada baju, lantas Bu Lastri memijit pinggangku. Sesudah lima menit saya bangkit berdiri, lantas saya menawarkan inspirasi gilaku untuk memijitnya.

“Ach memanglah Mas bisa mijit, bila bisa kebetulan nich betis ibu sukai pegal-pegal”

Saya sedikit bicara saya suruh Bu Lastri tiduran untuk memijit betis sisi belakang. Memanglah seperti rutinitas Bu Lastri cuma menggunakan baju daster bercorak kembang sampai batas dengkulnya. Lantas saya ambil body oil dari kamarku. Saya urut betis Bu Lastri lantas bebrapa perlahan pijitanku saya naikkan sampai pahanya. Dia nyatanya cuma diam saja. Karna sudah ada tanda fikirku, saya singkapkan dasternya sampai ke-2 belah pantatnya yang begitu menantang tampak terang dimuka mataku. Saya pijat pahanya sembari ke-2 jempolku saya input kedalam celana dalamnya. Dia cuma mendesah.

“Och.. ”

Hm.. Peluang nich, saya tidak menghabiskan waktu lagi, saya turunkan celana dalam Bu Lastri sampai batas dengkulnya, lantas saya input tangan kananku kedalam celah ke-2 belah pahanya, sembari memasukan jari tengahku kedalam lubang kemaluan Bu Lastri.

“Och.. Och.. ” desah Bu Lastri sembari mengangkat pantatnya agak ke atas, sampai semakin terang tampak kemaluan Bu Lastri yang sudah berwarna coklat tua. Lantas saya lumurkan body oil persis dilubang anus Bu Lastri, sampai meleleh sampai ke lubang kemaluannya. Saya gosok-gosok lubang kemaluan Bu Lastri sisi luarnya, sedang jempolku saya gesek-gesek dengan perlahan-lahan dilubang anusnya. Rupanya Bu Lastri tidak kuat lagi menahan gejolak napsu birahinya. Segera dia berdiri sembari menarik celana dalamnya ke atas kembali, dan mencium bibirku lantas berkata perlahan.

Baca juga : Kejujuran Tante Lusi Ingin Berhubungan Sex Denganku

“Mas masih siang tidak enak kelak ada yang datang lagi, kelak sore tentu saya akan ambillah air lagi dech” Bu Lastri seolah menyaratkan saya kalau kelak sore saja sesudah hari agak gelap.

Benar saja masih seperti tadi Bu Lastri kenakan pakaian, dia datang berpura-pura untuk minta air, kulihat mang Didin sedang repot melayani tamu yang pesan roti bakar diwarung Bu Lastri. Saya menyuruh Bu Lastri masuk kembali, namun saat ini saya ajak dia kekamar tengah tempat saya nonton TV, saya segera mendekapnya, dia menyongsong dengan ciuman sembari melumat lidahku. Lantas saya suruh Bu Lastri buka dasternya. Sampai dia telanjang bulat, lantas saya suruh dia nungging di atas bangku, dengan bebrapa perlahan saya selusuri pahanya dengan lidahku, sampai hingga ke lubang kemaluannya. Terlihat memanglah Bu Lastri rajin menjaga badannya.

Tanpa ada menghabiskan waktu saya buka celanaku lantas saya input penisku kedalam lubang kemaluannya dari belakang, saya genjot Bu Lastri dari belakang sampai cairan putih menetes dari lubang kemaluannya. Sedang dia cuma menunduk sembari mendekap senderan bangku tamuku, sembari pejamkan matanya menahan rasa nikmat.

Saya balikkan badan Bu Lastri lantas saya jilat teteknya yang sudah mulai mengendor, aku bikin sebagian sedotan keras dari bibirku di bagian tepi teteknya sampai membekas berwarna merah kehitam-hitaman. Dia cuma mendesah terus-terusan. Saya bisikan perlahan-lahan.

“Ibu isep saya miliki yach”

Tanpa ada diminta lagi Bu Lastri segera duduk di bangku sembari mengulum penisku, dan nampaknya beliau tahu persis langkah mengulum yang benar. Diputar-putarnya penisku dengan lidah dan air liurnya, sampai penisku semakin tegang dan keras. Lantas saya pegang kepalanya dengan ke-2 tanganku dan segera kugoyangkan penisku keluar masuk kedalam mulutnya. Lantas dijilatnya pinggir penisku sampai sisi paling bawah mendekati lubang anusku. Wow memanglah ibu yang satu ini begitu lihai langkah memberi kesenangan pada pria.

Lantas saya tarik bangku tamuku, saya sandarkan badan Bu Lastri di sandaran bangku sampai kepalanya menyentuh tempat duduk, sedang pinggangnya terganjal disandaran bangku, lantas saya renggangkan ke-2 belah paha Bu Lastri dan kumasukan penisku ke lubang kemaluannya dari mulai perlahan-lahan sampai kugenjot kencang.

Terlihat Bu Lastri akan berteriak, namun karna takut terdengar tetangga, ia cuma mendesah.

“Och.. Och.. Och.. Lanjutkan Mas, lanjutkan.. ”

Kami berdua sampai berkeringat, karna memanglah berniat saya menahan pejuku tidak untuk muncrat dulu. Karna saya memang sungguh-sungguh terangsang dengan putihnya body Bu Lastri, buah dadanya yang masih bulat menantang, walau agak turun sedikit, dan pinggulnya begitu menantang apabila dia menggunakan rok ataupun celana ketat.

Saya cabut penisku sembari bersihkan lubang kemaluan Bu Lastri dengan tissue, karna nampaknya Bu Lastri sudah menjangkau puncak kenikmatannya, hingga terlihat cairan pejunya meleleh. Pada akhirnya saya angkat Bu Lastri kedalam kamar tidurku, saya rebahkan dia, saya kecup bibirnya sembari tanganku memelintir puting susunya, terkadang saya ramas buah dadanya. Lantas ciumanku dibibirnya saya pindahkan kekedua buah dadanya, saya jilat dengan bertukaran puting susu Bu Lastri. Dia terlihat gelisah karna mulai terangsang kembali sembari terkadang mengangkat pinggulnya agar vaginanya bergesekan dengan penisku, dari mulai buah dadanya jilatanku turun ke arah pusar dan perut sisi bagian kanan dan kirinya.

“Och..!! ” terlihat Bu Lastri tidak kuat lagi menahan rangsangan yang saya beri lewat jilatan lidahku. Ia juga segera membalikkan tubuhku sampai terlentang lantas diapun mulai membalas dengan menjilat ke-2 puting tetekku, lantas mengangkat ke-2 pahaku sampai ke atas, sampai pinggangku agak terangkat, lantas ia mulai menjilat ke-2 bijiku lantas lebih turun kembali di sekitar pinggir lubang anusku, terkadang ujung lidah Bu Lastri menyentuh cocok ditengah lubang anusku, dan memanglah kesenangan yang mengagumkan yang saya peroleh pada sore hari ini. Karna memanglah service dari Bu Lastri dengan bertubi-tubi tanpa ada henti, segera buat saya tidak bisa lagi menahan pejuku untuk keluar.

Lantas saya angkat Bu Lastri untuk tempat menempati penisku, dengan perlahan-lahan dia input penisku kedalam lubang kemaluannya. Segera tanpa ada di beri komando Bu Lastri meningkatkan diriku seperti kuda liar, selalu dia menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Peristiwa ini berjalan sepanjang duapuluh menit dan terlihat keringat mulai menetes dari badan Bu Lastri, segera dia mendekap diriku, sembari berbisik.

“Keluarkan yach Mas.. saya sudah tidak kuat lagi.. ”

Sembari mengangguk saya cium bibirnya yang mungil. Lantas Bu Lastri kembali ke tempat menempati saya sembari meningkatkan goyangan pinggulnya lebih kencang lagi, selalu.. Dia meningkatkan, akupun tidak bisa menahan kesenangan yang sudah mencapai puncak diubun-ubun kepalaku. Lantas saya bebaskan pejuku di dalam lubang kemaluan Bu Lastri, dan nampaknya ini disertai dengan goyangan Bu Lastri yang semakin lama semakin melemah sembari terkadang dia menghentakkan pinggulnya, yang rupanya dia keluarkan pejunya untuk yang ke-2 kalinya. Lantas dia terpuruk merebahkan tubuhnya di atas badanku, sembari memeluk erat badanku. Bu lasti tidak seperti Pembantu Dirumah Ku Yang Mau Di Ajak Ngewe.

Sesudah sepuluh menit, saya bisikan ditelinga Bu Lastri.

“Bu yuck pakai baju, kelak mang Didin nyariin lho.. ”

Lantas Bu Lastri bangun dan bersihkan dianya di dalam kamar mandiku, demikian pula saya. Sesudah rapi Bu Lastri berkata.

“Mas saya kedepan yach” Lantas saya menjawab.
“Terima kasih, ‘roti bakarnya’ yach bu”

Lantas dia berbalik memandangku tajam sembari tersenyum dan berkata, “Awas kamu yach.. ”

Next Baca juga :

One thought on “Nikmatnya ML Di Kantor Sore sore dengan Bu Lastri Penjual Roti Bakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *