Cerita Sex Dewasa Ketagihan Di Perkosa

Posted on

Cerita Sex, Cerita Sex Terakhir, Cerita Sex Terhangat, cerita sex dewaswa, cerita sex Mesum, Cerita sex hot terhangat, cerita sex terakhir 2016, cerita sex 2017, Rinai hujan basahi akukawani sepi yang mengendapkala aku mengingatmudan semua saat manis itu. Sepenggal lirik lagu Utopia. Perjalanan pulang ke rumahku pada liburan kuliahku waktu itu terbukti melelahkan.Selain padatnya jalanan dampak musim liburan sekolah, hujan lebat juga terus mengguyur sepanjang perjalanan.
Tapi membayangkan hangatnya kamarku membikin aku sanggup menembus hujan deras itu di atas motorku. Berbagai jam kemudian hinggalah aku di gang rumahku. Gang itu tadinya hanya suatu kebun, saat ini berdiri tiga rumah di keun itu. Rumahku, rumah pak Jono di belakang rumahku dan rumah pak Rahman di samping rumahku.

 

Cerita Sex Dewasa Ketagihan Di Perkosa
Ketagihan Di Perkosa

Cerita Sex Dewasa Ketagihan Di Perkosa

Hujan turun terus deras saat aku buka gerbang rumahku dan melihat Yanti, anak gadis tertua pak Rahman duduk sendirian di depan rumahnya. Ia nampak meringkuk kedinginan di bangku depan rumahnya. Kuhampiri dirinya dan bertanya.
“Yanti, ngapain kok di depan rumah aja? Baru pulang sekolah ya?”
“Iya, mas. Aku baru pulang persami. Tapi nyatanya bapak, bunda & adik2ku mendadak berangkat ke luar kota menengok pakde. Kunci rumah yang aku pegang hilang waktu persami, jadi aku bimbang wajib ke mana. Mau ke rumah mas, bapak dan bunda mas juga sedang ke luar kota. au ke rumah pak Jono, nyatanya nggak ada siapa2. Mau ke rumah kawan tapi hujan deras” Jawabnya sambil memandangku.
Hubungi kita Untuk Menjalin kerja Sama
Pandangan matanya sungguh menggoda hati. Yanti terbukti cantik. Di umurnya yang belasan, tubuhnya terbilang ranum. Di SMU tempatnya bersekolah, ia dikenal sebagai sorang kembang sekolah.
Sebab aku pun kedinginan basah kuyup, sementara hujan terus deras, aku pun berbasa-basi menawarinya untuk berteduh di rumahku. Di luar dugaan ku nyatanya dirinya setuju.Tanpa tidak sedikit bicara, kubukakan gerbang dan pintuku dan mempersilahkannya duduk di ruang keluarga. Ruang yang lumayan hangat.
Yanti berterima kasih dan masuk sambil menggigil kedinginan lalu aku tersadar, nyatanya pakaian seragam sekolah yang dikenakannya basah kuyup. Lekuk2 tubuhnya terkesan jelas sebab pakaiannya lekat menempel. Pernah terlintas pikiran nakal yang membangunkan hasratku. Tapi cepat2 kusingkirkan pikiran itu. Besar resikonya kalau “makan” anak tetangga sendiri, hehehe.
Segera kuambilkan handuk, kaos, celana training dan jaket dan kuberbagi padanya.
” Yanti, ganti aja dulu. Kalau butuh mandi aja sekalian di kamar mandi depan ya. Aku mandi di kamar mandi belakang.” Yanti pun mengangguk.
Sekilas terbersit di pikiranku, ada kemungkinan Yanti bakal menanggalkan underwearnya dan hanya mengenakan pakaian yang aku berbagi. Pikiran nakal dan bayangan tubuh indah yang sedang mandi di kamar mandi depan terus membayangi otakku. Jadi aku pun tidak bisa menahan diri untuk onani membayangkan nikmatnya tubuh Yanti.
Lima belas menit kemudian, terdengar telepon. Kuangkat dan nyatanya ibuku yang menyuruhku meminta Yanti menginap di rumah saja. Nyatanya orangtua Yanti menelpon orangtuaku dan menitipkan Yanti pada mereka.
“Aha!!!” Pikiran setanku makin menari-nari. Kusampaikan pesan orangtuaku dan orangtuanya pada Yanti.
“Ya udah, kalian tidur aja di kamar tengah, kamar tamu. Kalo butuh apa2 alias pengen makan ambil aja sendiri” Kataku.
“Iya, mas makasih. Aku nonton sinetron dulu ya. Boleh kan?” Jawabnya.
“Boleh dunk. Oiya, aku laper, sekalian aku bikinin mi instan ya?” Tanyaku
“Aku bantuin deh, mas” Katanya.
Akhirnya di dapur, kita berdua menyiapkan mi instan istimewa. Istimewa buatku, sebab ruang dapur yang sempit membikin tubuh kita berbagai kali saling “bersentuhan”. Berbagai kali buah dadanya dan pantatnya yang lembut itu mendarat di punggungku. Gila! Tertutup jaketpun buah dadanya tetap begitu membentuk. Akupun mulai kewalahan menutupi batangku yang mulai berdiri.
Berakhir masak, kita sepakat makan di ruang keluarga sambil melihat tivi. Sementara di luar sana, hujan deras dan guntur tetap terus mendera. Mi hangat, hujan deras, dan gadis cantik…sangatlah liburan sempurna, pikirku.
Yanti terbukti seorang kembang, Bukan hanya sebab kecantikan dan kemolekan tubuhnya, tapi juga sebab kecerdasannya. Ngobrol dengannya sangatlah mengasyikkan. Sebegitu asyiknya hingga dirinya tidak canggung mencubit dan bersandar padaku sembari terpingkal2 menanggapi lelucon2ku. Ini pasti saja membikinku terus kelimpungan menyembunyikan batangku yang terus bersemangat. Hingga akhirnya
“DUARRR!!!!” terkesan kilat dan guntur yang sangat keras disusul padamnya lampu. Yanti menjerit dan memelukku.
“Mas, aku takut gelap” Jeritnya.
“Iya, tenang, tenang ya. Mas cari lilin dulu” Kataku berusaha menenangkannya sambil memegang tangannya. Sebab gelap, bukannya memegang tangganya, tanganku malah meleset ke dadanya. Padat dan lembut. Ketakutannya membikin Yanti tidak peduli dan terus memelukku.
” Nggak usah, mas. Aku takut” Rengeknya. Akhirnya aku pun memeluknya sambil mengelus-elus punggungnya. Perlahan nafsuku makin memuncak.dan usapanku turun ke pantatnya dan berganti menjadi remasan yang mengarah ke selangkangannya.
Yanti terpekik dan mendorongku, tapi aku tarik dan perketat pelukanku. Yanti terus saja mendorongku dan ia terus panik ketika tidak sengaja ia menyentuh selangkanganku. Dirinya menyentuh batangku yang berdiri sempurna.
“Lepasin, mas” Pekiknya. Tapi nafsuku telah di ubun2. jadi bukan melepasnya, tapi aku mendorongnya merebah, dan menindihnya. Kuciumi dirinya yang memukuliku. Aku tidak peduli, terus saja kuciumi lehernya dan dadanya yang nyatanya tidak menggunakan apa2 lagi tidak hanya kaos dan jaket yang aku berbagi. Kulepaskan ikat pinggangku dan dengan sulit payah kuikat kedua tangannya ke ujung sofa.
Yanti menjerit minta tolong, tapi derasnya hujan dan petir yang bersahutan menelan jeritannya. Kubuka zipper jaket yang dikenakannya, dan menyingkap kaos yang menutupi dadanya. Cocok ketika kaos nya sukses kusingkap, lampu kembali menyala. Walhasil terkesanlah pemandangan yang menarik.
Airmata yang meleleh di pipinya meningkatkan kecantikan Yanti. Buah dadanya yang putih, besar dan padat tidak tertutupi lagi, menantang dengan puting coklat muda yang ranum, terus menantang sebab tangannya terbelit ke atas. Kubuka seluruh pakaianku sambil terus menindihnya dan menikmati buah dadanya. Kuremas2, kupilin2 putingnya, kuciumi, gigit, hisap dan jilati kedua buah dada beserta putingnya hingga putingnya menegang dan memerah. Yanti terus saja meronta dan menangis, tapi berbagai menit kemudian ia tidak lagi menjerit, bahkan sesekali mendesah ketika aku meremas dan menghisap putingnya.
Perlahan kuselipkan tanganku ke balik celana trainingnya, yang semacam dugaanku, ia tidak mengenakan apapun di baliknya sehinga aku dengan mudah bisa menyentuh semak2nya dan menekan bukit kecil di baliknya. Kurasakan vagnya telah basah. Kuusap2 dan gesek klitorisnya dengan jari tengahku. Yanti pun menggeliat dan melenguh lembut saat jariku menari2 di klitorisnya. Tubuh Yanti bergetar luar biasa saat aku menekan dan menggesekan jariku kuat=kuat di klitoris dan vagnya.
Kutarik lepas celananya, Yanti tersentak dan merapatkan kakinya. Ia menendang-nendang liar tetapi kakinya justru dengan mudah bisa kutangkap dan kurentangkan. Kutindih Yanti, dan kuletakkan batangku persis di depan klitorisnya, kutekan dan gesekkan kepala batangku ke klitorisnya yang basah dan hangat itu. Yanti kembali meronta, tetapi tidak lama kemudian rontaannya menjadi gelinjang nikmat, dan pekikannya menjadi lenguhan dan desahan yang membikinku terus bersemangat meremas buah dada, menjilati dan menghisap puting dan menggesekkan batangku pada klitorisnya.
Perlahan kurasakan Yanti mulai pasrah, kakinya mulai meregang, gelinjangannya saat ini seirama dengan gesekan kepala batangku. Perlahan Yanti terbuktigilku
“Massss, mas boleh ngapain aja, tapi jangan dimasukkin. Aku tetap perawan, mas.” Bisiknya sambil sesenggukan.
“Kenapa, Yanti? Percayalah, mas bertanggungjawab. Lagipula mas ingin kalian juga menikmati ini hingga puncak” Jawabku sambil menempatkan kepala batangku di depan vagnya.
“Nggak, mas! Jangan! Ooooh, nggaaaak, Yanti nggak mauuu!” Jeritnya.
“Oooh, sakit mas, sakit , aaah, oooh!!!” Pekiknya ketika perlahan kudorong batangku memasuki liang sempit yang licin dan hangat. Yanti meronta, tetapi gerakannya malah membikin batangku masuk terus dalam dan dalam hingga ke pangkalnya.
Ooooh, nikmatnya. Kurasakan aroma anyir darah perawan yang membasahi batangku ketika dengan seperlahan dan selembut mungkin kutarik batangku keluar, hanya sedikit gerakan yang kubuat untuk meminimalisir rasa sakit Yanti. Dan semacamnya gerakanku cocok, sebab pekikan kesakitan Yanti mulai berubah menjadi desahan, meski ia tetap meronta dan menangis. Makin lama kurasakan vagnya makin rapat menjepit batangku, tapi juga terus licin, maka kepercepat bandul pinggulku yang membikin batangku terus deras menghunjam dan berminat dari vag Yanti.
Yanti mengelinjang dan mendesah mengikuti irama pompaanku. Ia tidak lagi menangis, Yanti saat ini malah terpejam-pejam dan menggigit bibirnya. Buah dadanya nampak indah berguncang setiap kali kutusukkan batangku dalam2. Sexy sekali. Terus cepat ku pompa batangku di dalam vagnya. Desahannyapun saat ini berubah menjadi erangan nikmat. Perlahan kulepas ikatan tangannya. Dan tangannya pun menggapai-gapai dan mencengkeram erat sofa lalu memeluk kepalaku yang sedang mengulum dan jilati putingnya. Disembunyikannya wajahnya yang terkesan terus menikmati perkosaan ini. Hingga akhirnya tubuhnya mengejang, dan kurasakan vagnya menggenggan kuat batangku. Kupercepat ayunanku, hingga akhirnya aku tidak lagi bisa menahan diri untuk menyemburkan air maniku di dalam liang vagnya.
“Aaaah, Yaaannttii, kalian nikmat sekali, sayang!” bisikku sambil mengulum daun telinganya. Kutarik batangku perlahan dan seusai lepas, mengalir keluarlah air maniku melewati celah kenikmatan Yanti. Yanti telentang lemas dengan nafas memburu dan peluh membasahi seluruh tubuhnya. Kupeluk tubuh indah dan ciumi wajah cantiknya.
Perlahan ku usap wajah Yanti, dan menyeka airmatanya. Kucium kening dan bibirnya. Yanti mendorongku pelan, dan berbisik.
“mas, bener kan mau bertanggungjawab?”
“Ya, sayang” Jawabku. Yantipun memelukku yang segera kubalas dengan pelukan dan pagutan di bibirnya. Dirinya pun membalasku.
“Malam ini Yanti punya Mas, Mas boleh nikmati tubuh Yanti sepuasnya” Bisiknya sambil memelukku. Kugendong ia ke kamar, dan malam itu, dikawani hujan deras yang turun sepanjang malam, kembali ku”perkosa” Yanti. Kusetubuhi Yanti berkali-kali hingga fajar menjelang.
Cerita Sex, Cerita Sex Terakhir, Cerita Sex Terhangat, cerita sex dewaswa, cerita sex Mesum, Cerita sex hot terhangat, cerita sex terakhir 2016, cerita sex 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *